Memahami perkembangan kebijakan AI dalam academic writing, translation, dan scholarly publishing.
Pendahuluan
Artificial intelligence (AI) semakin banyak digunakan dalam berbagai tahap penyiapan artikel ilmiah, mulai dari pemeriksaan tata bahasa, penyempurnaan bahasa akademik, penerjemahan, hingga membantu penulis mengorganisasi gagasan. Perkembangan ini membawa peluang baru bagi researchers, khususnya mereka yang menulis artikel ilmiah dalam bahasa yang bukan bahasa utama mereka.
Namun, penggunaan AI dalam publikasi ilmiah juga menghadirkan pertanyaan penting. Apakah penulis diperbolehkan menggunakan AI untuk menerjemahkan manuscript? Apakah setiap penggunaan AI harus diungkapkan? Apakah AI boleh membantu menghasilkan isi artikel? Dan siapa yang bertanggung jawab jika hasil AI mengandung kesalahan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin relevan karena penerbit ilmiah mulai mengembangkan kebijakan yang secara khusus mengatur penggunaan AI oleh authors, editors, dan reviewers.
Sebagian penerbit memperbolehkan penggunaan AI untuk membantu proses penulisan dan penerjemahan, tetapi tetap menetapkan persyaratan mengenai transparansi, pemeriksaan hasil, perlindungan data, dan tanggung jawab penulis.
Dengan demikian, diskusi mengenai AI dalam scholarly publishing tidak lagi cukup berhenti pada pertanyaan apakah AI boleh digunakan atau tidak. Hal yang lebih penting adalah memahami untuk tujuan apa AI digunakan, bagaimana penggunaannya dilaporkan, dan batas tanggung jawab manusia dalam proses tersebut.
1. Dunia Penerbitan Ilmiah Sedang Beradaptasi dengan AI
Kebijakan mengenai AI dalam penerbitan ilmiah terus berkembang seiring dengan meningkatnya kemampuan dan penggunaan teknologi tersebut.
Penerbit besar seperti Elsevier, Springer Nature, dan Taylor & Francis telah menyediakan panduan mengenai penggunaan AI dalam penyiapan manuscript. Meskipun memiliki prinsip yang serupa, ketentuan masing-masing penerbit tidak selalu identik.
Sebagai contoh, Taylor & Francis memperbolehkan penggunaan generative AI untuk sejumlah keperluan, termasuk copyediting, language improvement, dan translation, dengan ketentuan bahwa penulis harus memeriksa hasilnya serta mengungkapkan penggunaan AI sesuai kebijakan yang berlaku.
Elsevier juga memperbolehkan penggunaan AI untuk membantu penyiapan manuscript, tetapi menegaskan bahwa teknologi tersebut tidak boleh menggantikan pemikiran kritis, keahlian, dan evaluasi manusia. Penggunaan AI untuk penyiapan manuscript juga harus diungkapkan sesuai ketentuan penerbit.
Sementara itu, Springer Nature menyediakan panduan yang membedakan penggunaan AI untuk membantu penyempurnaan bahasa dari penggunaan yang lebih substantif dalam proses penulisan dan penelitian.
Sumber kebijakan resmi:
- Elsevier — Generative AI Policies for Journals
- Springer Nature — Editorial Policies
- Taylor & Francis — AI Policy
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penerbit ilmiah tidak semata-mata menolak penggunaan AI. Sebaliknya, mereka berupaya menetapkan batas penggunaan yang dapat diterima sekaligus menjaga integritas dan akuntabilitas publikasi ilmiah.
Namun, kebijakan satu penerbit tidak otomatis berlaku untuk seluruh jurnal. Karena itu, penulis tetap perlu memeriksa Instructions for Authors dan kebijakan AI dari jurnal yang dituju.
2. Penggunaan AI yang Dapat Diizinkan dalam Penyiapan Manuskrip
AI dapat membantu penulis dalam sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan bahasa dan penyiapan manuscript. Namun, izin penggunaannya bergantung pada kebijakan penerbit atau jurnal yang bersangkutan.
Language editing dan grammar correction
AI dapat digunakan untuk membantu memeriksa grammar, memperbaiki struktur kalimat, dan meningkatkan keterbacaan teks akademik. Meskipun demikian, penulis tetap perlu memeriksa apakah perubahan yang dihasilkan mempertahankan maksud ilmiah dari teks asli.
Translation
AI dapat membantu menerjemahkan manuscript dari satu bahasa ke bahasa lain. Penggunaan ini relevan bagi researchers yang melakukan penelitian dan menulis naskah awal dalam Bahasa Indonesia, kemudian mempersiapkannya dalam Bahasa Inggris untuk publikasi internasional.
Namun, terjemahan yang lancar belum tentu sepenuhnya akurat. Istilah teknis, hubungan antargagasan, dan maksud penulis tetap perlu diperiksa oleh manusia yang memahami bahasa serta substansi terkait.
Taylor & Francis, misalnya, secara eksplisit mengizinkan AI-assisted translation dengan persyaratan bahwa hasil terjemahan diperiksa dan diverifikasi. Panduannya juga mengatur pengungkapan penggunaan AI dan tanggung jawab atas pemeriksaan akurasi terjemahan.
Improving readability and organization
AI juga dapat membantu meningkatkan keterbacaan dan mengorganisasi teks. Akan tetapi, perubahan struktur atau penyusunan ulang kalimat perlu diperiksa untuk memastikan bahwa argumentasi, hubungan sebab-akibat, dan penekanan ilmiah penulis tidak berubah.
Penting untuk dipahami bahwa izin menggunakan AI untuk language assistance tidak otomatis berarti AI boleh menggantikan kontribusi intelektual penulis. Batas penggunaan tetap ditentukan oleh kebijakan yang berlaku dan sifat tugas yang dilakukan.
3. Apakah AI Boleh Digunakan untuk Menghasilkan Isi Penelitian?
Pertanyaan ini memerlukan pembedaan antara bantuan teknis dan kontribusi substantif.
Menggunakan AI untuk memperbaiki grammar tidak sama dengan menggunakan AI untuk menghasilkan interpretasi data. Demikian pula, menerjemahkan penjelasan yang ditulis peneliti berbeda dari meminta AI menciptakan hasil penelitian yang tidak berasal dari data.
Beberapa penggunaan yang perlu diperiksa secara khusus meliputi:
- menghasilkan atau mengembangkan substantive research claims;
- menyusun interpretasi hasil penelitian;
- menghasilkan referensi yang belum diverifikasi;
- membuat atau mengubah data dan gambar penelitian;
- menyusun argumentasi yang menggantikan kontribusi intelektual penulis.
Penggunaan AI dalam kegiatan tersebut tidak dapat dinilai hanya berdasarkan nama tools yang digunakan. Tujuan penggunaan, tingkat keterlibatan AI, metode penelitian, dan kebijakan jurnal semuanya perlu dipertimbangkan.
Sebagai contoh, penggunaan AI untuk membantu coding dalam penelitian tertentu dapat berbeda dari penggunaan AI untuk menghasilkan data penelitian. Demikian pula, penggunaan AI untuk membantu merangkum literatur berbeda dari menjadikan ringkasan AI sebagai pengganti pembacaan dan evaluasi kritis terhadap sumber aslinya.
Dalam semua kasus tersebut, penulis perlu memastikan bahwa penggunaan AI diperbolehkan, output-nya diverifikasi, dan kontribusi intelektual penulis tetap jelas.
Prinsip utamanya bukan bahwa semua penggunaan AI dilarang, melainkan bahwa AI tidak boleh menggantikan tanggung jawab ilmiah penulis.
4. Mengapa AI Use Disclosure Semakin Penting?
Ketika AI digunakan dalam penyiapan manuscript, penulis perlu memahami apakah jurnal mengharuskan penggunaan tersebut diungkapkan dan bagaimana disclosure harus disusun.
AI use disclosure merupakan penjelasan mengenai penggunaan AI dalam penelitian atau penyiapan manuscript. Bergantung pada kebijakan yang berlaku, informasi yang perlu dicantumkan dapat meliputi nama tools, tujuan penggunaan, dan bagian proses yang dibantu AI.
Misalnya, sebuah manuscript menggunakan ChatGPT untuk membantu menerjemahkan teks dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Jika kebijakan jurnal mewajibkan disclosure, penulis perlu menjelaskan penggunaan tersebut secara akurat.
Disclosure tidak berarti bahwa penulis menyerahkan tanggung jawab atas manuscript kepada AI. Sebaliknya, disclosure membantu editor dan pembaca memahami bagaimana teknologi digunakan dalam proses penyiapan karya ilmiah.
Elsevier, misalnya, meminta deklarasi penggunaan generative AI dan AI-assisted technologies dalam penyiapan manuscript, dengan ketentuan yang dijelaskan dalam kebijakan resminya. Taylor & Francis juga menetapkan persyaratan pengungkapan penggunaan AI.
Namun, bentuk dan lokasi disclosure dapat berbeda. Sebagian jurnal meminta pernyataan khusus di bagian akhir manuscript, sedangkan ketentuan lain dapat mengatur penempatannya secara berbeda.
Karena itu, penulis sebaiknya tidak menggunakan satu format disclosure untuk semua jurnal tanpa memeriksa ketentuan yang berlaku.
5. Ketika Manuskrip Terjemahan Mendapatkan AI-Detection Score 50%
Perkembangan kebijakan AI ini semakin relevan jika dikaitkan dengan persoalan yang telah dibahas dalam artikel AWTranslate sebelumnya, yaitu AI detection.
Dalam salah satu kasus yang pernah dijumpai dalam pendampingan manuscript, sebuah artikel mendapatkan respons reviewer bahwa sekitar 50% teks terdeteksi sebagai AI-generated.
Penelitian dan substansi ilmiah artikel tersebut berasal dari penulis. AI digunakan dalam proses penerjemahan dan penyempurnaan bahasa akademik. Setelah menerima respons reviewer, penulis memberikan Declaration of the Use of AI untuk menjelaskan bagaimana AI digunakan dalam penyiapan manuscript.
Setelah memenuhi permintaan reviewer dan persyaratan lainnya, artikel tersebut akhirnya diterima untuk publikasi (accepted).
Pengalaman ini memberikan konteks penting bagi diskusi mengenai AI dalam scholarly publishing.
Penggunaan AI dalam penerjemahan tidak dengan sendirinya berarti bahwa AI menghasilkan penelitian, data, atau argumentasi ilmiah penulis. Namun, ketika AI digunakan dalam proses penyiapan bahasa, penggunaannya tetap perlu ditangani sesuai kebijakan jurnal yang dituju.
Kasus tersebut juga tidak membuktikan bahwa AI detector melakukan kesalahan. Skor deteksi saja tidak cukup untuk menentukan keseluruhan kontribusi AI dalam suatu manuscript. Yang diperlukan adalah pemahaman terhadap konteks penggunaan AI dan penjelasan yang transparan mengenai proses penyiapannya.
Dengan demikian, persoalannya bukan hanya apakah AI digunakan, tetapi juga untuk tujuan apa AI digunakan dan bagaimana penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Pembahasan mengenai AI-detection score dan keterbatasan interpretasinya dapat dibaca lebih lanjut dalam artikel sebelumnya:
AI Detector Menunjukkan Skor Tinggi: Apakah Manuskrip Pasti Ditulis oleh AI?
6. AI Tidak Dapat Menggantikan Tanggung Jawab Penulis
Salah satu prinsip yang konsisten dalam kebijakan berbagai penerbit adalah bahwa AI tidak dapat dicantumkan sebagai author.
Menurut Committee on Publication Ethics (COPE), AI tools tidak memenuhi persyaratan authorship karena tidak dapat mengambil tanggung jawab atas karya yang dipublikasikan.
Tanggung jawab tersebut tetap berada pada penulis manusia, termasuk tanggung jawab terhadap:
- akurasi informasi dan interpretasi;
- orisinalitas kontribusi ilmiah;
- ketepatan referensi dan sitasi;
- integritas data dan hasil penelitian;
- kepatuhan terhadap kebijakan jurnal;
- pengungkapan penggunaan AI sesuai ketentuan.
Karena itu, penulis tidak dapat menganggap hasil AI otomatis benar hanya karena output-nya terlihat meyakinkan atau menggunakan bahasa akademik yang baik.
Referensi yang dihasilkan AI, misalnya, tetap perlu diverifikasi. Begitu pula dengan hasil penerjemahan yang mungkin mengubah makna istilah teknis atau hubungan antarkalimat.
AI dapat membantu proses kerja, tetapi tanggung jawab atas isi manuscript yang disubmit dan dipublikasikan tetap berada pada penulis.
Sumber: COPE — Authorship and AI Tools
7. Apa yang Perlu Dilakukan Sebelum Manuskrip Disubmit?
Memahami kebijakan AI merupakan bagian dari persiapan submission. Sebelum mengirimkan manuscript, penulis dapat melakukan beberapa pemeriksaan berikut.
Periksa kebijakan jurnal tujuan
Baca Instructions for Authors dan ketentuan penggunaan AI. Jangan mengasumsikan bahwa semua jurnal dalam satu penerbit menerapkan kebijakan yang identik.
Identifikasi penggunaan AI secara akurat
Penulis perlu mengetahui apakah AI digunakan untuk translation, language editing, literature assistance, data analysis, atau kegiatan lain. Penjelasan yang diberikan harus sesuai dengan penggunaan sebenarnya.
Verifikasi hasil AI
Periksa grammar, terminology, factual accuracy, citations, argumentation, dan konsistensi makna. Untuk translation, bandingkan hasil terjemahan dengan naskah sumber untuk memastikan tidak ada perubahan substansi yang tidak disengaja.
Siapkan disclosure jika diwajibkan
Gunakan format dan lokasi yang ditentukan jurnal. Jangan mengandalkan contoh deklarasi dari jurnal lain tanpa memeriksa kesesuaiannya.
Lindungi kerahasiaan manuscript
Sebelum mengunggah manuscript yang belum dipublikasikan ke AI tool, periksa ketentuan privasi, keamanan data, dan penggunaan input pada tools tersebut. Pertimbangkan pula kewajiban kerahasiaan yang mungkin berlaku bagi penelitian atau institusi.
Langkah-langkah ini tidak menjamin bahwa manuscript akan diterima atau terbebas dari pertanyaan reviewer. Namun, langkah tersebut membantu penulis menggunakan AI secara lebih transparan dan mempersiapkan manuscript sesuai ketentuan yang berlaku.
Insight AWTranslate
Perkembangan AI telah mengubah cara researchers mempersiapkan artikel ilmiah, termasuk dalam penerjemahan dan penyempurnaan bahasa akademik. Pada saat yang sama, penerbit ilmiah terus menyesuaikan kebijakan untuk memastikan bahwa pemanfaatan teknologi tetap sejalan dengan integritas penelitian dan tanggung jawab penulis.
Dalam konteks ini, penggunaan AI tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan apakah sebuah tools digunakan atau tidak. Tujuan penggunaannya, kualitas hasil, tingkat pemeriksaan manusia, serta kepatuhan terhadap kebijakan jurnal juga perlu diperhatikan.
Bagi researchers yang menggunakan AI untuk translation atau language refinement, tantangannya bukan sekadar menghasilkan teks berbahasa Inggris yang lancar. Manuscript juga harus mempertahankan makna ilmiah, terminologi yang tepat, dan maksud penulis, sekaligus memenuhi persyaratan disclosure yang berlaku.
AI dapat membantu proses penyiapan manuscript, tetapi tidak menggantikan penilaian kritis dan tanggung jawab penulis. Memahami prinsip tersebut menjadi semakin penting dalam lingkungan scholarly publishing yang terus berkembang.
Kesimpulan
Kebijakan mengenai penggunaan AI dalam penerbitan ilmiah terus berkembang. Sejumlah penerbit mengizinkan AI untuk membantu translation, language editing, dan kegiatan lain dalam penyiapan manuscript, dengan persyaratan yang berbeda-beda.
Karena itu, penulis perlu memahami bahwa izin menggunakan AI bukan berarti seluruh penggunaannya diperbolehkan tanpa batas. Transparansi, verifikasi hasil, perlindungan data, dan tanggung jawab manusia tetap menjadi prinsip penting.
Sebelum melakukan submission, researchers sebaiknya memeriksa kebijakan jurnal tujuan, memastikan penggunaan AI sesuai ketentuan, dan mengungkapkannya apabila diwajibkan.
Pada akhirnya, tujuan penggunaan teknologi dalam scholarly publishing bukan sekadar mempercepat proses penulisan, tetapi membantu menghasilkan karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Responsible AI use. Human oversight. Transparent disclosure. Academic integrity.
Keempat prinsip tersebut dapat menjadi landasan bagi researchers dalam memanfaatkan AI secara bertanggung jawab tanpa mengabaikan kualitas komunikasi ilmiah.
Baca Juga
- Apakah AI Sudah Cukup untuk Menerjemahkan Artikel Ilmiah?
- AI Detector Menunjukkan Skor Tinggi: Apakah Manuskrip Pasti Ditulis oleh AI?
- Grammar Sudah Benar, Mengapa Manuskrip Masih Dikritik Reviewer?
- Mengapa Reviewer Mengomentari Bahasa, Padahal Penelitiannya Sudah Baik?
Academic Translation & Publication Support
Mempersiapkan manuscript untuk publikasi internasional perlu memperhatian ketepatan bahasa, konsistensi terminology, kejelasan makna, dan kesesuaian dengan tujuan komunikasi ilmiah.
AWTranslate membantu researchers mempersiapkan manuscript dalam academic English dengan tetap menjaga substansi dan maksud ilmiah penulis.
Kunjungi AWTranslate untuk mengenal layanan academic translation dan language support.

