Cara Menerjemahkan Artikel Ilmiah agar Layak Submit ke Jurnal Internasional

image 1 jul 8, 2026, 08 06 37 am

Mengapa Banyak Artikel Berkualitas Tetap Ditolak?

Setiap tahun, ribuan artikel ilmiah dikirimkan ke berbagai jurnal internasional. Sebagian diterima, sebagian harus melalui proses revisi yang panjang, dan tidak sedikit yang langsung ditolak oleh editor sebelum memasuki tahap peer review.

Banyak peneliti mengira penyebab utama penolakan adalah kualitas penelitian. Padahal, dalam praktiknya, bahasa juga memegang peranan yang sangat penting.

Bayangkan seorang reviewer membaca sebuah manuskrip yang sebenarnya memiliki metodologi yang baik dan data yang kuat. Namun, setiap paragraf dipenuhi kalimat yang tidak alami, istilah yang berubah-ubah, serta struktur bahasa yang membingungkan. Dalam kondisi seperti ini, reviewer akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menebak maksud penulis daripada menilai kualitas penelitiannya.

Akibatnya, penelitian yang sebenarnya bernilai justru gagal menyampaikan kontribusinya secara efektif.

Inilah alasan mengapa proses penerjemahan artikel ilmiah tidak boleh dianggap sebagai tahap administratif semata. Penerjemahan merupakan bagian dari komunikasi ilmiah yang menentukan apakah hasil penelitian dapat dipahami dengan jelas oleh komunitas akademik internasional.


Penerjemahan Artikel Ilmiah Bukan Sekadar Mengganti Bahasa

Kesalahan yang paling sering terjadi adalah menganggap bahwa menerjemahkan artikel sama seperti menerjemahkan dokumen biasa.

Padahal keduanya sangat berbeda.

Ketika menerjemahkan artikel ilmiah, tujuan utamanya bukan hanya mengubah bahasa Indonesia menjadi bahasa Inggris. Yang jauh lebih penting adalah mempertahankan makna ilmiah, logika penelitian, serta gaya penulisan akademik yang lazim digunakan dalam jurnal internasional.

Sebagai contoh, kalimat berikut mungkin terdengar wajar dalam bahasa Indonesia.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa penggunaan media pembelajaran digital memberikan pengaruh positif terhadap motivasi belajar mahasiswa.

Jika diterjemahkan secara harfiah, hasilnya bisa menjadi:

Based on the research that has been conducted, it can be known that the use of digital learning media gives a positive influence on students’ learning motivation.

Secara tata bahasa, kalimat tersebut mungkin masih dapat dipahami. Namun bagi penutur asli atau reviewer internasional, susunannya terasa kaku dan tidak natural.

Versi yang lebih sesuai dengan gaya penulisan akademik adalah:

The findings indicate that digital learning media positively influence students’ learning motivation.

Maknanya tetap sama, tetapi penyampaiannya lebih ringkas, lebih jelas, dan sesuai dengan konvensi penulisan artikel ilmiah.

Perbedaan seperti inilah yang sering kali menentukan apakah sebuah manuskrip terasa profesional atau sekadar hasil terjemahan literal.


Mengapa Google Translate Sering Tidak Cukup?

Kemajuan teknologi membuat proses penerjemahan menjadi jauh lebih mudah. Saat ini tersedia berbagai alat berbasis Artificial Intelligence (AI), seperti Google Translate, DeepL, maupun ChatGPT.

Semua alat tersebut sangat membantu, terutama untuk menghasilkan draf awal.

Namun, penting untuk memahami bahwa AI bekerja berdasarkan pola bahasa. AI belum sepenuhnya memahami konteks penelitian sebagaimana manusia memahami suatu disiplin ilmu.

Sebagai contoh, istilah model dalam artikel ilmiah dapat memiliki makna yang berbeda bergantung pada bidang penelitian.

Dalam ilmu pendidikan, learning model berarti model pembelajaran.

Dalam statistika, statistical model merujuk pada model statistik.

Dalam ilmu komputer, language model memiliki arti yang sama sekali berbeda.

AI mungkin dapat menerjemahkan ketiganya sebagai “model”, tetapi belum tentu mampu memilih istilah yang paling sesuai dengan konteks pembahasan apabila konteksnya kurang jelas.

Selain itu, AI juga sering menghasilkan masalah seperti:

  • istilah yang berubah-ubah dalam satu artikel;
  • penggunaan tense yang tidak konsisten;
  • struktur kalimat yang terlalu menyerupai bahasa Indonesia;
  • pemilihan kata yang benar secara gramatikal tetapi kurang lazim digunakan dalam publikasi internasional.

Karena itulah, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses penyuntingan akademik.


Langkah Pertama: Pastikan Naskah Bahasa Indonesia Sudah Siap

Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan penulis adalah langsung menerjemahkan naskah yang sebenarnya belum selesai disusun.

Padahal terdapat prinsip sederhana dalam dunia penerjemahan:

Garbage in, garbage out.

Artinya, apabila naskah sumber masih mengandung banyak kelemahan, hasil terjemahannya juga akan membawa kelemahan yang sama.

Sebelum menerjemahkan artikel, lakukan pemeriksaan terhadap beberapa aspek berikut.

1. Logika antarparagraf

Pastikan setiap paragraf memiliki hubungan yang jelas dengan paragraf sebelumnya.

Transisi yang baik akan memudahkan penerjemah mempertahankan alur argumentasi ketika dialihkan ke bahasa Inggris.


2. Konsistensi istilah

Tentukan sejak awal istilah utama dalam penelitian.

Sebagai contoh, apabila menggunakan istilah:

  • critical thinking
  • academic writing
  • writing anxiety

Gunakan istilah tersebut secara konsisten pada seluruh bagian artikel.

Mengubah istilah di tengah manuskrip dapat membingungkan pembaca sekaligus menyulitkan proses penerjemahan.


3. Struktur kalimat

Kalimat yang terlalu panjang sering kali menjadi penyebab utama hasil terjemahan terasa tidak alami.

Sebagai ilustrasi, satu kalimat bahasa Indonesia dapat terdiri atas lebih dari lima puluh kata dengan banyak anak kalimat.

Dalam bahasa Inggris akademik, kalimat seperti itu biasanya lebih efektif jika dipecah menjadi dua atau tiga kalimat yang lebih ringkas.

Reviewer cenderung lebih menghargai tulisan yang jelas dibanding tulisan yang rumit.


4. Ketepatan istilah ilmiah

Istilah teknis sebaiknya mengacu pada literatur internasional terbaru.

Jangan menerjemahkan istilah ilmiah berdasarkan kamus umum.

Sebagai contoh, istilah dalam bidang pendidikan, kesehatan, teknik, maupun ilmu sosial sering memiliki padanan resmi yang digunakan secara luas dalam jurnal bereputasi.

Menggunakan istilah yang tepat akan meningkatkan kredibilitas manuskrip.


Insight AWTranslate

Dalam pengalaman menangani berbagai manuskrip untuk jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional, masalah terbesar hampir tidak pernah berasal dari grammar.

Justru yang paling sering ditemukan adalah ketidakkonsistenan istilah akademik.

Misalnya, satu manuskrip menggunakan tiga padanan berbeda untuk istilah yang sama, seperti learning outcome, learning achievement, dan student achievement, padahal ketiganya dimaksudkan untuk merujuk pada satu konsep penelitian.

Bagi penulis, perbedaan tersebut mungkin terlihat sepele. Namun, bagi reviewer, inkonsistensi istilah dapat menimbulkan pertanyaan mengenai ketepatan konsep yang digunakan. Menjaga konsistensi terminologi sejak awal akan membuat argumen penelitian lebih jelas, lebih mudah diikuti, dan terlihat lebih profesional.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *