Salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul dalam proses publikasi ilmiah adalah:
“Mengapa reviewer masih meminta perbaikan bahasa, padahal grammar artikel saya sudah diperiksa dan dinyatakan benar?”
Pertanyaan tersebut sangat wajar. Saat ini tersedia berbagai alat bantu yang mampu mendeteksi kesalahan tata bahasa, ejaan, bahkan memberikan saran perbaikan kalimat secara otomatis. Banyak penulis memanfaatkannya sebelum mengirimkan manuskrip ke jurnal.
Namun, tidak sedikit yang tetap menerima komentar seperti:
“The language of the manuscript should be improved.”
atau
“The manuscript requires further language editing before publication.”
Bagi sebagian penulis, komentar tersebut terasa membingungkan. Jika grammar sudah benar, mengapa aspek bahasa masih menjadi perhatian reviewer?
Jawabannya terletak pada satu hal yang sering kali terlewatkan, yaitu bahwa grammar dan academic language bukanlah dua konsep yang sama.
Memahami perbedaan keduanya penting agar penulis memiliki ekspektasi yang lebih realistis ketika mempersiapkan manuskrip untuk jurnal nasional maupun internasional.
Grammar yang Baik Belum Tentu Membuat Manuskrip Mudah Dipahami
(H2)
Grammar merupakan fondasi dalam penggunaan bahasa. Tata bahasa yang benar membantu memastikan bahwa hubungan antarkata, struktur kalimat, serta aturan kebahasaan telah digunakan secara tepat.
Dalam penulisan ilmiah, grammar yang baik tentu merupakan syarat penting. Manuskrip yang dipenuhi kesalahan tata bahasa akan menyulitkan pembaca memahami maksud penulis dan berpotensi mengurangi kredibilitas naskah.
Namun, grammar hanyalah salah satu bagian dari komunikasi ilmiah.
Sebuah kalimat dapat memiliki struktur grammar yang benar, tetapi tetap terasa panjang, berbelit-belit, atau sulit diikuti. Demikian pula, penggunaan kosakata yang secara tata bahasa tepat belum tentu menghasilkan penyampaian gagasan yang efektif dalam konteks akademik.
Di sinilah banyak penulis mulai menyadari bahwa keberhasilan sebuah manuskrip tidak hanya ditentukan oleh ketepatan bahasa, tetapi juga oleh kemampuan menyampaikan ide ilmiah secara jelas, logis, dan konsisten.
Dengan kata lain, grammar yang baik merupakan fondasi, sedangkan academic language merupakan cara membangun fondasi tersebut menjadi komunikasi ilmiah yang utuh.
Mengapa Reviewer Tidak Hanya Memperhatikan Grammar?
(H2)
Tujuan utama reviewer bukanlah mencari kesalahan tata bahasa.
Reviewer membaca manuskrip untuk menilai apakah penelitian yang dilakukan benar-benar memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Agar penilaian tersebut dapat dilakukan secara objektif, reviewer harus mampu memahami dengan cepat apa yang ingin disampaikan oleh penulis.
Ketika bahasa yang digunakan membuat alur pembahasan terasa kurang jelas, istilah berubah-ubah, atau argumentasi sulit diikuti, reviewer memerlukan usaha tambahan untuk menafsirkan maksud penulis. Kondisi inilah yang sering memunculkan komentar mengenai perlunya perbaikan bahasa.
Dalam banyak kasus, komentar tersebut bukan berarti grammar manuskrip buruk. Sebaliknya, reviewer menginginkan agar komunikasi ilmiah menjadi lebih efektif sehingga kualitas penelitian dapat dinilai berdasarkan substansinya, bukan terhambat oleh cara penyampaiannya. Hal ini menjelaskan mengapa dua manuskrip dengan tingkat ketepatan grammar yang sama dapat memperoleh tanggapan reviewer yang berbeda. Perbedaannya sering kali terletak pada kualitas academic language, bukan semata-mata pada tata bahasa.
Insight AWTranslate
Dalam proses publikasi ilmiah, kualitas bahasa tidak hanya diukur dari ketepatan grammar, tetapi juga dari kemampuan manuskrip menyampaikan gagasan ilmiah secara jelas, logis, dan konsisten. Oleh karena itu, komentar reviewer mengenai bahasa tidak selalu menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan kurang baik. Sebaliknya, komentar tersebut sering kali merupakan upaya untuk memastikan bahwa kontribusi ilmiah penulis dapat dipahami dengan baik oleh editor, reviewer, dan pembaca jurnal. Memahami perbedaan antara grammar dan academic language membantu penulis melihat proses revisi sebagai bagian dari penyempurnaan komunikasi ilmiah, bukan sekadar perbaikan tata bahasa.
Kesimpulan
Grammar merupakan fondasi penting dalam penulisan akademik, tetapi bukan satu-satunya aspek yang menentukan kesiapan sebuah manuskrip untuk dipublikasikan. Reviewer tidak hanya memperhatikan ketepatan tata bahasa, melainkan juga bagaimana ide penelitian disampaikan secara efektif kepada komunitas ilmiah. Dengan memahami bahwa academic language mencakup kejelasan, konsistensi, dan alur penyampaian gagasan, penulis dapat memandang komentar mengenai bahasa secara lebih konstruktif. Pada akhirnya, tujuan utama revisi bukan hanya menghasilkan kalimat yang benar, tetapi memastikan bahwa nilai ilmiah sebuah penelitian dapat dipahami sebagaimana yang dimaksud oleh penulis.
Siap Mempersiapkan Manuskrip Anda?
Setiap manuskrip memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda, baik dari sisi bahasa, konsistensi istilah, maupun kesiapan untuk publikasi. Memahami kebutuhan naskah sejak awal dapat membantu proses publikasi berjalan lebih efektif.
Apabila Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai layanan Translation, Proofreading, Academic Editing, maupun Publication Support yang disediakan AWTranslate, silakan kunjungi halaman Services atau hubungi kami melalui WhatsApp untuk informasi lebih lanjut.
Baca Juga
📖 Mengapa Artikel Ilmiah Ditolak Jurnal Internasional?
Pelajari berbagai faktor yang menyebabkan sebuah manuskrip ditolak editor maupun reviewer, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan peluang publikasi.
📖 Mengapa Reviewer Mengomentari Bahasa, Padahal Penelitiannya Sudah Baik?
Pahami mengapa kualitas penelitian yang baik tetap dapat memperoleh komentar mengenai aspek bahasa, serta pentingnya komunikasi ilmiah dalam proses publikasi.

